Peran Ki Hadjar Dewantara Untuk Pendidikan Indonesia

 

Oleh: Akhmat Kusairi

Pendidikan nasional tengah mengalami kekacauan begitu besar, Menurut data yang dilaporkan The Word Economic Forum Swedia (2000) Indonesia memiliki daya saing yang rendah, dari 57 negara disurvei dunia, Indonesia berada diurutan ke 37. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektivitas, efesiensi, dan standarisasi pengajaran. Pada umumnya hal tersebut masih menjadi masalah dalam pendidikan di Indonesia. Selain kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing pelajar, kurikulum yang sentralistik, guru, dan Sekolah lebih banyak dituntut sebagai pelaksana kurikulum bukan pelaku sehingga membuat wajah pendidikan semakin samar.

Pendidikan merupakan hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap orang untuk belajar menjadi berkarakter dan memiliki sosial yang tinggi. Hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan tidak hanya sebatas kewajiban untuk menghormati dan melindungi, tetapi menjadi kewajiban untuk memenuhi hak warga negara tersebut, bahkan Undang Undang Dasar (UUD) 1945 memandang perlunya menjadikan pendidikan dasar sebagai kewajiban negara.

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) selalu dirayakan dengan upacara bendera di Sekolah dan perguruan tinggi maupun kegiatan lainya yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Peringatan hardiknas bertepatan dengan kelahiran Ki Hadjar Dewantara yang memiliki nama asli R.M Suwardi Suryaningrat 2 Mei 1889, tanggal tersebut ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia (RI) nomor 316 tahun 1959, pada tanggal 16 Desember 1960.

Pria yang lahir dari keluarga ningrat di Pakualaman, Yogyakarta merupakan cucu dari Sri Paku Alam III, sedangkan Ayahnya bernama K.P.H Suryaningrat dan Ibundanya bernama Raden Ayu Sandiyah yang merupakan buyut dari Nyai Ageng Serang, seorang keturunan dari Sunan Kalijaga. Pria yang meninggal dunia pada tanggal 26 April 1959 itu ditetapkan sebagai pahlawan nasional dua hari setelah kepergiannya. Karena ia dianggap sangat berjasa bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Beliau juga mendirikan Perguruan Taman Siswa yang merupakan sebuah tempat belajar untuk menyetarakan pendidikan yang sama dengan orang-orang dari kasta lebih tinggi. Sebab pada zaman penjajahan Belanda, pendidikan hanya di perbolehkan untuk warga Belanda sendiri dan orang-orang terpandang saja.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang sangat familiar ditelinga masyarakat Indonesia adalah Tiga Semboyan yang selalu diterapkannya dalam pendidikan. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi: Ing Ngarsa Sung Tulada (Didepan, seorang pendidik memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), Ing Madya Mangun Karso (Ditengah atau diantara murid , guru harus menciptakan prakarsa, semangat dan ide), dan Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Sampai saat ini slogan tersebut menjadi acuan bagi guru untuk mendidik murid dan menjadi logo dari kementerian pendidikan.

Selain semboyan, beliau juga memiliki tiga metode yang digunakan dalam pendidikan: pertama, metode ngerti, maksudnya adalah memberikan pengertian yang sebanyak-banyaknya kepada pelajar, seperti mengajarkan tentang aturan yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Kedua, metode ngarasa maksudnya adalah anak dididik untuk dapat memperhitungankan dan membedakan mana yang benar dan yang salah. Ketiga, metode ngelakoni maksudnya adalah harus bertanggung jawab dan memikirkan matang-matang sebelum melakukan sebuah tindakan.

Menurut Jurnal dari Eka Yanuarti, pemikiran Ki Hadjar Dewantara relevan dengan Kurikulum 2013 yang saat ini dijalankan oleh Kementrian Pendidikan. Dalam tujuan pembelajaran empat dimensi yaitu, jasmani, rohani, akal, dan sosial. Peran pendidik menurut Ki Hadjar Dewantara adalah sebagai fasilitator dan motivator yang meletakkan mata pelajaran pendidikan agama dan budi pekerti di setiap jenjang satuan pendidikan.

Jejak Dan Pencapaian Ki Hadjar Dewantara

Selain mendapat pendidikan dilingkungan Istana Paku Alam, Ki Hadjar Dewantara juga mendapatkan pendidikan agama dari pesantren Kalasan dibawah asuhan K.H. Abdurahman. Beliau juga mendapatkan formal antara lain; Europeesche Legere School (ELS) Sekolah Dasar Belanda III. Kweek School (Sekolah Guru) di Yogyakarta. School Tot Opveodin Van Indiscbe Artsen (STOVIA), yaitu sekolah kedokteran yang berada di Jakarta, namun tidak selesai karena jatuh sakit. Beliau juga sempat mendapatkan gelar Doktor Honoris Cause, (Dr.H.C) yang diberikan Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun 1957 dan sempat tercatat sebagai wartawan pada beberapa media seperti Oetoesan Hindia, De Express, Midden Java, Soedyotomo, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesera. Salah satu tulisannya adalah “Ais Ik Eens Nederlander Was” (Andaikan Aku Seorang Belanda).

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri talah merampas kemerdekaanya. Sejajar dengan jalan fikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si penduduk pedalaman memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Fikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahawa bangsa penduduk pedalaman diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”.

Tulisan tersebut sebagai reaksi terhadap pemerintah Belanda untuk mengadakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penindasan Prancis yang akan dirayakan tanggal 15 November 1913 dengan memungut biaya secara paksa kepada Rakyat Indonesia. Akibat tulisan tersebut, Ki Hadjar Dewantara ditangkap dan diasingkan ke Belanda pada tahun 1913.

 


Editor  : Janaek Simarmata

Ilustrator : M Arif Budiman


 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *