Pentingnya Mencintai Diri Sendiri


Oleh : Marleni Rahayu


Cinta identik dengan romantisme dua insan yang saling melengkapi untuk komitmen menjalani hidup. Hal yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah “Romeo & Juliet”, dan Zainuddin dalam film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” adalah sekelumit kisah yang menggambarkan hal tersebut.

Namun, ketika membahasnya, cenderung melupakan cinta terhadap diri sendiri (self-love). Mencintai diri sendiri bukan hanya dalam bentuk materi, seperti mengonsumsi apa yang diinginkan, mengikuti nafsu diri untuk bersenang-senang, ataupun mengikuti perkembangan zaman dalam hal berpenampilan. Ketika kita menerima diri kita apa adanya, adalah esensi sebenarnya dari cinta itu.

Monica Sulistiawati, M.Psi—Psikolog dari Personal Growth mengatakan, self love adalah ketika kita berusaha menerima diri sendiri apa adanya, dalam hal kelebihan dan kekurangannya, serta mendukung dan sejalan untuk memaafkan hal keliru yang sudah dilakukan. Monica menjelaskan juga pentingnya menerapkan cinta diri sebelum mengejar cinta orang lain.

“Kenapa badanku pendek ya? Kulitku kenapa makin hitam saja? Kok wajahku ga seperti mereka yang cantik dan putih sih?” keluhan yang tanpa sadar keluar dari mulut kita, menandakan bahwa kita belum sepenuhnya mencintai diri apa adanya.

Mengeluh adalah bentuk sikap tidak terima akan masalah yang tengah dihadapi seseorang. Uang kurang, badan kurus, gemuk, pendek, hingga ditinggal pacar pun sulit untuk menerima keadaan dan berujung menyalahkan diri. Apapun yang tak bisa kita terima, sebenarnya adalah akar dari masalah sehari-hari yang kita alami.

“Hidup seseorang tidak akan bisa berubah sebelum orang tersebut menerima keadaan dirinya saat ini” kalimat dari motivator Merry Riana terkait Self Love.

Menerima diri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Tetapi dengan kita melakukannya, akan ada banyak manfaat yang kita rasakan.

Supiawan Roli—Motivator sekaligus youtuber mengungkapkan, beberapa manfaat menerima keadaan adalah tidak akan mudah tersinggung ketika dihina orang lain. Dalam hidup, wajar ketika menerima respon dari apa yang diperbuat. Dengan menerapkannya, maka respon yang diterima akan membangun diri kita lebih baik ke depan. Belajar fokus, untuk meningkatkan kemampuan, serta memperbaiki kekurangan yang ada.

“Dengan mencintai diri sendiri, maka orang lain akan menerima kita apa adanya. Bukan berarti egois, karena Tuhan tidak menciptakan kita dengan sia-sia. Kebahagiaan itu kita yang ciptakan, bukan orang lain” tutupnya.


Editor & Ilustrator : Fadhli Abi Rafdi

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *