Berkalang Banjir, Agenda Tahunan Kuansing


OLEH : JOHAN HARIWITONANG


“Sungai Kuantan yang kerap kali meluap, meninggalkan kubangan lumpur berbau anyir yang susah dihilangkan ketika surut. Kondisi yang tidak seperti dahulu lagi, melahirkan cukup banyak masalah ketika hujan turun dengan derasnya, bukan hanya karena alasan alam semata, aktivitas manusia juga memperparahnya.”

Pertengahan Februari lalu, untuk kedua kalinya, kuputuskan untuk kembali pulang ke kampung, Ini dalam rangka merayakan seminggu berjamur di kos menunggu jadwal kuliah semester genap yang tak kunjung keluar. Karena itu kuputuskan pulang, untuk kembali melepas rindu yang hanya beberapa saat kemarin.

Aku tinggal di desa Muaro Sentajo, Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi. Dari Pekanbaru ke Kampung, memakan waktu sekitar 4 jam. Aku memilih berkendara lebih lambat dari biasanya, selain berhati-hati melewati truk-truk besar, juga ingin menikmati hangatnya cahaya matahari pagi menembus embun tipis yang mulai hilang terbawa angin.

 Tidak ada yang istimewa dari perjalanan pulangku, becek di beberapa tempat dan hanya deretan sawit yang ada di kanan kiri jalan. Di pertengahan, jalan tampak berbeda, banjir menggenangi kebun sawit di daerah Lipat Kain, Kampar Kiri. Kulihat tingginya hampir setengah badan orang dewasa. Di desa Muara Lembu, sungainya juga kulihat meluap.

Setibanya di rumah, belum sampai aku di halaman, kusapa nenek yang sedang sibuk mengelap kaca rumah, mengenakan sarung dan baju oblong khasnya dia.

Nek, Jo baliak” teriakku panjang sambil melepas helm dan masker yang ku pakai. Butuh waktu beberapa saat nenek merespon jawabanku.

 “Ang ma yo Jo? a ko lah baliak lai e,” segera kusalami tangannya.

 “Iyo nek, olun keluar jadwal kuliah Johan lai do, tu  baliak lai nak” senyumku menyeringai sambil menatap wajahnya.

Rumahku letaknya berdekatan dengan Sungai Sinambek, sungai yang dulunya bersih itu, kini berubah menjadi aliran air menyerupai susu cokelat tak layak minum. Tak jauh dari sungai, ada rumahku dan rumah nenek. Rumah nenek di tepi jalan, dengan kondisi tanah yang menurun, sementara rumah kami beberapa meter di belakangnya.

Keruh, kotor tak enak dipandang, kondisi air banjir yang kerap meninggalkan bekas lumpur ketika surut. Aku termenung sebentar menatap air banjir yang tampaknya tiap jam semakin besar itu.

Rumah nenek memang sangat kerap digenangi banjir, sampai ke halaman rumah depan, menyapu setengah bagian bangunan rumah, tak jarang bisa sampai menyentuh jalan raya. Berbeda dari rumah orangtuaku yang sudah bergaya panggung ditinggikan. Walau aku menyadari, tetap sulit untuk bepergian dan membeli makanan, mau tidak mau harus mengarungi derasnya banjir.

Sementara nenek, barang-barangnya harus diangkut ke tempat lain, atau sekadar  dititipkan ke rumah tetangga untuk sementara waktu.

Ke ate lah Jo, ibuk dengan adiak di ate,” sahut bapak yang rupanya telah sampai di teras nenek menghidupkan motor, sambil memakai basahan kain sarung.

Tarondam motor pak ?”tanyaku memastikan.

Iyo nak, subuah potang lupo bapak masuak an ka rumah nenek, di bawah kandang talopak ja nyo. Pagi alah tarondam satongah badan motor.”

Matahari telah turun menampakkan sinar senjanya. Aku yang sedang tertidur pulas, terbangun karena adik yang duduk di sampingku memukul-mukul badanku. Kulihat ibu, lalu menghampirinya yang tengah asik makan rambutan di depan teras. Sayup-sayup kudengar riuh suara orang-orang yang sedang berbincang, suara yang sedikit melengking itu berasal dari Yana sepupuku, mudah ku kenali suaranya. Saudara-saudaraku, telah berkumpul di teras, hanya sekadar untuk berbincang.  

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab banjir ini semakin parah. Dikutip dari Riau Pos.co—Banjir terjadi akibat alih fungsi hutan, bahkan aktivitas ilegal logging serta Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) masih terjadi, sehingga kawasan penyangga air terganggu.

Banjir membuat aktivitas masyarakat dan perekonomian terganggu. Sejumlah sekolah diliburkan akibat ruang kelas tak luput dari banjir.

Menurut Drs. Napisman—Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa Kuansing, diperkirakan dua belas ribu rumah warga terendam banjir. Selain ribuan rumah, banjir kali ini juga merendam hampir ratusan hektar lahan persawahan masyarakat yang saat ini sedang musim tanam. Akibatnya sawah milik warga terancam rusak.

Rumah kami memang kerap dilanda banjir, setahun dua atau tiga kali, biasanya terjadi memasuki bulan Oktober hingga Desember, namun tahun ini puncaknya pada bulan Januari dan Februari, seperti sudah agenda tahunan. Namun, beberapa tahun terakhir volume air banjir mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Hujan deras melanda sebagian wilayah Sumatra Barat dan Riau. Air kiriman dari Sungai Ombilin Sumbar yang merupakan bagian hulu pun mengalir deras, menuju Sungai Kuantan. Akibatnya air sungai yang melintasi sembilan kecamatan itu meluap.

Warga yang ada di sepanjang bantaran sungai mulai dari Hulu Kuantan, Kuantan Mudik, Gunung Toar, Kuantan Tengah, Sentajo Raya, Benai, Pangean, Kuantan Hilir, Kuantan Hilir Seberang, Inuman dan Cerenti terkena dampaknya.

Sore itu di teras rumah, aku memandang lurus aliran banjir yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan surut. Dari kejauhan kulihat banyak anak-anak yang bermain di tingginya debit banjir dengan mimik wajah yang memancarkan kebahagiaan, selain itu ibu-ibu sekitar juga banyak menyintak (menangkap ikan dengan alat tradisional) di sekitaran banjir, dan ada juga yang mencuci motor mereka di tepi jalan, mencari debit air yang rendah.  

Ditengah hangatnya senja, di tepi teras rumah, ibu kembali bercerita tentang air sungai yang tak lagi seperti dulu. Mereka bisa cukup tenang dengan banjir yang dialami.

 “Ndak macam detu lai do Jo, lah koruah kini. Aia sungai mirip susu, la batoga an jangan mandompeng kan ado totap nyo, awak yang konai jadi e,” ujar ibu dengan mata yang berkaca-kaca.

Di ujung sungai masih terdengar bunyi pot..pot..pot.. nyaring dari  mesin penambang emas. Sekantong rambutan menjadi pengganjal perut kami menunggu gelapnya malam yang tak kunjung datang.


Editor : Arniati Kurniasih
Foto : Riau1.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *