The Lorax: Cermin Retak Kerakusan Manusia di Balik Kepungan Bencana Sumatera
Penulis : Ririn Anitsya
Lingkungan dan keserakahan adalah dua kutub yang mustahil dipertemukan. Alam sejatinya memiliki mekanisme pertahanan sendiri, namun ia akan luluh lantak ketika manusia mulai memandangnya sekadar sebagai objek eksploitasi demi tumpukan materi dan kepentingan ekonomi sesaat.
Ironisnya, realitas kelam ini bukan hanya terjadi di layar lebar. Di tanah Sumatera, narasi kerusakan lingkungan telah mewujud menjadi bencana nyata. Rentetan banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatra Barat bukan sekadar fenomena alam biasa. Ratusan nyawa yang hilang adalah harga mahal yang harus dibayar atas persoalan serius mengenai deforestasi dan pengabaian ekosistem di wilayah tersebut.
Kondisi darurat ini membawa ingatan kita pada pesan tajam dalam film animasi Dr. Seuss’ The Lorax (2012). Film ini bukan sekadar tontonan visual yang penuh warna, melainkan satir pedas yang menguliti bagaimana keserakahan manusia bisa menghancurkan masa depan.
Film The Lorax yang dirilis pada 2 Maret 2012 mengisahkan Ted Wiggins, seorang remaja yang tinggal di Thneedville, kota modern yang seluruh lingkungannya bersifat buatan dan tidak memiliki satu pun pohon asli. Di kota tersebut, bahkan udara bersih menjadi komoditas yang harus dibeli. Awalnya, Ted berusaha mencari pohon sungguhan hanya untuk mengesankan Audrey, gadis yang ia sukai dan memiliki impian sederhana melihat pohon asli. Namun, seiring perjalanannya, tujuan Ted berubah dan berkembang menjadi kesadaran akan pentingnya keberadaan alam bagi seluruh masyarakat di kotanya.
Dalam upayanya mendapatkan pohon, Ted bertemu dengan Once-ler, sosok misterius yang mengetahui sejarah hilangnya pepohonan di wilayah tersebut. Dari kisah Once-ler, muncul sosok Lorax, makhluk kecil yang berperan sebagai pelindung alam dan dengan tegas menentang eksploitasi lingkungan secara berlebihan. Lorax digambarkan sebagai suara alam yang terus memberi peringatan, namun kerap diabaikan demi kepentingan ekonomi, sebuah situasi yang memiliki kemiripan dengan kondisi lingkungan di berbagai wilayah Sumatra.
Melalui alur cerita yang sederhana, The Lorax memperlihatkan bagaimana keserakahan manusia dapat membawa dampak luas bagi kehidupan sosial. Hilangnya pepohonan tidak hanya merusak keseimbangan alam, tetapi juga memaksa masyarakat hidup tanpa lingkungan alami dan bergantung pada sistem buatan. Pesan ini sejalan dengan realitas bencana di Sumatra, di mana kerusakan hutan memperbesar risiko banjir dan tanah longsor yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Film ini juga menyoroti minimnya kesadaran dan pencegahan sejak dini. Peringatan Lorax yang diabaikan hingga kerusakan tidak dapat diperbaiki mencerminkan situasi nyata ketika upaya perlindungan lingkungan sering kalah oleh kepentingan jangka pendek. Akibatnya, bencana baru disadari ketika dampaknya telah menimbulkan kerugian besar.
Melalui dialog ikonik,
“Unless someone like you cares a whole awful lot, nothing is going to get better.”
film ini menegaskan bahwa perubahan hanya dapat terjadi jika ada kepedulian nyata dari individu yang kemudian didukung oleh tanggung jawab bersama. Pesan ini relevan dengan kondisi Sumatra saat ini, di mana penanganan dan pencegahan kerusakan lingkungan membutuhkan peran pemerintah dan masyarakat.
Secara keseluruhan, film The Lorax bukan sekadar film animasi hiburan, tetapi kritik sosial terhadap eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam. Film ini mengajak penonton untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam, sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukanlah pilihan, melainkan tanggung jawab bersama demi keberlangsungan hidup di masa depan.
Gambar : Koleksi Google
Editor : Nabila Permata Diana

