UIR Tingkatkan Kesiapsiagaan Darurat Medis Melalui Pelatihan BHD
Penulis: Alya Salsabilla
Universitas Islam Riau (UIR) menggelar pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanganan kegawatdaruratan medis pada Selasa (13/05) di Ruangan Auditorium Lantai IV Gedung H. Rawi Kunin.
Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan civitas akademika dalam menghadapi kondisi darurat medis di lingkungan kampus. Seluruh peserta mengikuti kegiatan secara interaktif melalui sesi penyampaian materi serta praktik langsung.
Pelatihan ini merupakan hasil kerja sama UIR dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN). Kegiantan tersebut menghadirkan sejumlah dokter spesialis anestesiologi, salah satunya adalah dr. Tengku Arfi Sulaiman, Sp.An-TI, serta beberapa tenaga medis lainnya yang memberikan materi mengenai BHD dan Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR).
Kepala Biro Umum UIR, Tati Maharani, S.P., M.P., menyebutkan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam membangun lingkungan yang tanggap terhadap kondisi darurat medis. Menurutnya, kesiapsiagaan dalam penanganan kegawatdaruratan merupakan hal penting bagi civitas akademika.
“Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan civitas akademika terkait penanganan kegawatdaruratan guna mewujudkan lingkungan kampus yang tanggap terhadap kondisi darurat medis,” ujarnya.
Dalam penyampaiannya, dr. Tengku Arfi Sulaiman, Sp.An-TI, menjelaskan pentingnya tindakan cepat saat menemukan korban tidak sadar akibat henti jantung maupun gangguan pernapasan. Ia menegaskan bahwa pertolongan pertama yang dilakukan dengan benar dapat meningkatkan peluang keselamatan korban sebelum mendapatkan bantuan medis lanjutan.
“Dengan sedikit keberanian untuk menolong, kita bisa menyelamatkan nyawa seseorang sebelum bantuan medis datang,” jelasnya.
Peserta diperkenalkan pada langkah dasar penanganan darurat, mulai dari memeriksa respons korban, meminta bantuan, mengecek pernapasan dan denyut nadi, hingga melakukan pijat jantung atau CPR. Pemateri juga menegaskan bahwa masyarakat umum dapat membantu menyelamatkan nyawa apabila memahami prosedur dasar tersebut.
Selain itu, dijelaskan bahwa otak hanya bertahan sekitar empat hingga enam menit tanpa suplai oksigen sebelum mengalami kerusakan serius. Oleh karena itu, tindakan cepat dinilai sangat penting dalam penanganan henti jantung.
Pelatihan ini turut membahas penanganan tersedak pada orang dewasa, anak-anak, hingga bayi. Peserta diperlihatkan teknik membuka jalan napas serta cara memberikan bantuan pada korban yang mengalami sumbatan saluran pernapasan akibat makanan atau benda asing.
Pada sesi praktik, peserta mempelajari teknik CPR berdasarkan kelompok usia menggunakan manekin medis. Untuk bayi, tekanan dada dilakukan menggunakan dua jari, sedangkan pada anak dan orang dewasa menggunakan satu hingga dua tangan dengan teknik berbeda.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi tanya jawab dan simulasi langsung. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu memahami dasar pertolongan pertama serta memiliki keberanian untuk memberikan bantuan awal pada situasi darurat medis di lingkungan sekitar kampus.
Editor: Airlangga Kepri Nusantara
Foto: Alya Salsabilla

