REHAT

Pelajaran dari “Broken Strings” Aurelie Moeremans: Waspada Bahaya Senyap Child Grooming


Oleh : Sumita Sari

Mahasiswi : Fakultas Ilmu Komunikasi


Belakangan ini, aktris Aurelie Moeremans menjadi sorotan publik setelah membagikan buku terbarunya yang berjudul Broken Strings” di media sosial. Melalui memoar tersebut, ia secara berani mengungkap luka masa lalunya terkait hubungan toksik dan manipulatif yang ia alami saat masih berusia sangat muda. Kisah ini memicu diskusi luas di kalangan netizen mengenai fenomena child grooming, sebuah ancaman serius yang sering kali tidak disadari karena pelaku bergerak secara halus untuk menjebak korbannya.

Child grooming merupakan tindakan di mana orang dewasa membangun ikatan emosional dan kepercayaan dengan anak-anak atau remaja dengan tujuan akhir untuk melakukan pelecehan atau eksploitasi. Menurut informasi dari laman Alodokter, modus ini sangat berbahaya karena pelaku sering kali memberikan perhatian lebih, pujian, hingga hadiah agar korban merasa spesial dan bergantung secara emosional kepada pelaku.

Dalam jurnal yang diterbitkan di KONSELI: Jurnal Bimbingan dan Konseling, dijelaskan bahwa grooming kini telah bermutasi ke ranah digital (online grooming), di mana pelaku memanfaatkan media sosial dan aplikasi pesan untuk mendekati anak-anak tanpa harus bertemu secara fisik di awal.

Tanda-tanda child grooming sering kali tersamarkan sebagai bentuk “cinta” atau “perlindungan.” Berdasarkan ulasan dari National Geographic Indonesia, pelaku biasanya berusaha mengisolasi korban dari keluarga dan teman-temannya dengan cara menciptakan rahasia antara mereka berdua.

Dampak psikis yang ditinggalkan pun sangat mendalam. Jurnal penelitian menyebutkan bahwa korban grooming dapat mengalami stres emosional, trauma hebat, rasa bersalah, malu, hingga gangguan psikologis serius seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Sebagai langkah pencegahan, edukasi seksual sejak dini menjadi kunci utama agar anak mampu mengenali batasan pribadi dan perilaku yang tidak wajar.

Penelitian dalam jurnal KONSELI menekankan pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, serta pengawasan ketat terhadap penggunaan perangkat digital. Keberanian Aurelie Moeremans dalam menyuarakan kisahnya melalui “Broken Strings” menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa pemulihan trauma adalah proses panjang, dan perlindungan terhadap anak dari predator grooming harus dimulai dari kepekaan lingkungan terdekat.


Editor : Airlangga Kepri Nusantara

Foto : Halaman akun Instagram Aurelie Moeremans