Laporan Reuters 2025: Media Tradisional Kian Tergerus, Influencer dan Ai Mulai Dominasi Konsumsi Berita
Oleh : Mhd.Alfa Rendi
Mahasiswa : Fakultas Ilmu Komunikasi
Laporan Berita Digital (Digital News Report) 2025 dari Reuters Institute for the Study of Journalism mengungkap pergeseran drastis dalam lanskap informasi global. Laporan tahun ke-14 ini menunjukkan bahwa media tradisional seperti televisi, cetak, dan situs berita utama terus kehilangan pengaruhnya, sementara ketergantungan publik pada platform video, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) meningkat pesat.
Riset yang mencakup 48 pasar di enam benua ini menyoroti penurunan drastis keterlibatan audiens terhadap sumber berita tradisional. Di Amerika Serikat, untuk pertama kalinya, konsumsi berita melalui media sosial dan jaringan video (54%) telah melampaui berita televisi (50%) dan situs web/aplikasi berita (48%).
Fenomena ini dipicu oleh perubahan perilaku generasi muda (Gen Z dan Milenial) yang lebih memilih mendapatkan informasi dari “kepribadian” atau pembuat konten (influencer) dibandingkan dari organisasi berita resmi. Nama-nama seperti Joe Rogan di AS atau Hugo Travers di Prancis kini memiliki jangkauan yang setara atau bahkan melebihi saluran berita arus utama bagi audiens di bawah usia 35 tahun.
Video tetap menjadi format pilihan utama. Penggunaan TikTok untuk berita terus melonjak, terutama di pasar Asia dan Afrika. Di Thailand, hampir separuh responden (49%) menggunakan TikTok sebagai sumber berita utama mereka.
Selain TikTok, YouTube dan Instagram tetap menjadi pemain kunci. Laporan ini juga mencatat stabilitas platform X (sebelumnya Twitter) di beberapa negara, yang meskipun kontroversial, tetap menjadi wadah bagi audiens yang mencari informasi cepat, terutama dari kelompok sayap kanan yang merasa memiliki ruang lebih besar di bawah kepemimpinan baru platform tersebut.
Tahun 2025 menandai pertama kalinya laporan ini memetakan dampak chatbot AI seperti ChatGPT sebagai sumber berita. Meskipun angka penggunaannya secara mingguan masih kecil (sekitar 7%), angka ini melonjak dua kali lipat pada kelompok usia di bawah 25 tahun (15%).
Publik memiliki pandangan yang terbelah mengenai AI. Meskipun diakui dapat membantu efisiensi (seperti menerjemahkan atau meringkas berita), audiens tetap skeptis terhadap transparansi dan akurasinya. Sebanyak 58% responden global menyatakan kekhawatiran atas kemampuan mereka membedakan informasi benar dan palsu di internet.
Terlepas dari gempuran teknologi, laporan ini memberikan satu titik terang bagi jurnalisme berkualitas: merek berita tepercaya masih menjadi rujukan utama saat orang ingin melakukan verifikasi atas informasi palsu yang beredar di media sosial.
Namun, tantangan ekonomi tetap menghantui. Strategi langganan digital (paywall) mulai mengalami stagnasi di banyak negara. Sebagian besar publik masih enggan membayar untuk berita online, dengan hanya 18% orang di negara-negara maju yang bersedia mengeluarkan biaya untuk langganan berita.
Direktur Riset Reuters Institute, Nic Newman, dalam ringkasannya menekankan bahwa industri media kini berada dalam era “fragmentasi ekstrem”.
“Jurnalisme berbasis bukti sedang berhadapan dengan ekosistem alternatif yang penuh dengan podcaster dan YouTuber yang seringkali tidak terikat oleh kode etik jurnalistik tradisional,” ungkapnya.
Laporan ini menjadi peringatan keras bagi perusahaan media untuk segera beradaptasi dengan format video, memanfaatkan AI secara etis, dan membangun kembali koneksi manusiawi dengan audiens yang merasa semakin kewalahan oleh banjir informasi.
Editor : Fitri Almaidah
foto : Reuters Institute for the Study of Journalism / University of Oxford (2025)

