Kritik Pemerintahan dalam Film Animasi “Si Juki: Panitia Hari Akhir”
Penulis : Adziratul Jihani
Si Juki: Panitia Hari Akhir merupakan film animasi Indonesia bergenre komedi dan satire sosial, dirilis pada tahun 2017. Karya ini menampilkan Si Juki sebagai representasi masyarakat kelas menengah yang bersinggungan langsung dengan dinamika kebijakan publik serta birokrasi negara. Dengan mengusung cerita fiktif mengenai ancaman kehancuran bumi, film ini bukan sekadar menyajikan humor yang ringan, tetapi juga mengisyaratkan sindiran terhadap cara kerja pemerintahan ketika dihadapkan dengan situasi darurat.
Kisah film ini berfokus pada sosok Si Juki, seorang pemuda dengan latar belakang ekonomi sederhana, namun memiliki kepekaan terhadap persoalan lingkungan sosial disekitarnya. Konflik bermula ketika sebuah benda langit berupa meteor raksasa diprediksi akan menghantam planet bumi kemudian membahayakan keberlangsungan hidup manusia, termasuk Indonesia di dalamnya.
Dalam kondisi genting tersebut, pemerintah digambarkan tidak memiliki kesiapan serta mengalami kebuntuan dalam merumuskan tindakan. Di tengah kekacauan serta struktur kekuasaan yang mengalami kebingungan, Si Juki yang berlabelkan masyarakat biasa justru berperan andil secara aktif dalam upaya proses penyelamatan, walaupun dirinya tahu ia berada di luar lingkar kekuasaan yang tidak terikat dengan institusi resmi manapun.
Analisis Unsur Politik dan Kritik terhadap Pemerintahan
Pesan kritik sosial pada film Si Juki: Panitia Hari Akhir melalui visual dan narasi ini menyentil kinerja otoritas negara dalam menghadapi situasi serius. Pemerintahan melalui cerita tersebut disajikan kurang efektif, hal ini tercermin dari adegan memperhatikan pejabat publik yang lebih sibuk dengan rapat, wacana formal, dan perdebatan administratif tanpa berujung pada langkah konkret.
Jika ditinjau lebih jauh, humor dalam Film animasi Si juki: Panitia Hari Akhir digunakan sebagai alat untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintahan. Situasi krisis yang seharusnya serius justru dikemas secara jenaka, sehingga memperlihatkan ironi antara ancaman besar lalu respon negara yang tidak sigap. Film ini menertawakan pola pemerintahan yang baru bereaksi ketika telah berada di titik genting, sekaligus menyindir lemahnya perencanaan dan kesiapsiagaan negara.
Selain itu, film ini juga menampilkan bagaimana masyarakat kecil sering kali berada dalam posisi rentan saat negara gagal menjalankan fungsinya secara optimal. Tokoh Si Juki membuktikan bahwa warga biasa dituntut untuk beradaptasi, bertahan di tengah ketidakpastian kebijakan. Hal ini memperlihatkan ketimpangan peran antara negara dan warga negara, di mana tanggung jawab penyelesaian masalah kerap bergeser kepada individu, bukan institusi yang seharusnya berwenang. Negara tidak hadir sebagai entitas yang solutif dan melindungi, melainkan sebagai struktur yang terkesan jauh dari realitas yang dihadapi masyarakat.
Kritik terhadap pemerintahan juga tampak dalam cara film ini menunjukkan pengambilan keputusan yang tidak transparan dan minim akuntabilitas. Meskipun disajikan dalam bentuk komedi, situasi tersebut mencerminkan realitas politik Indonesia, di mana proses kebijakan sering kali tidak melibatkan masyarakat secara langsung dan kurang mempertimbangkan kepentingan publik secara menyeluruh.
Kelebihan utama film animasi Si Juki: Panitia Hari Akhir terletak pada keberanian sang tokoh utama, yaitu Si Juki dalam menyampaikan kritik sosial dan politik melalui pendekatan humor, secara terbuka mempertanyakan kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada masyarakat. Dengan menempatkan tokoh rakyat sebagai pihak yang berani bersuara, film ini menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan hak publik dan tidak seharusnya dibungkam, sekaligus menyindir sikap negara yang kerap mengabaikan suara rakyat.
Namun demikian, film ini juga memiliki kekurangan. Kritik terhadap pemerintahan disampaikan secara implisit sehingga tidak semua penonton dapat menangkap pesan politik yang terkandung di dalamnya, terutama bagi mereka yang menikmati film hanya sebagai hiburan semata.
Dengan demikian, Si Juki: Panitia Hari Akhir dapat dipandang sebagai refleksi kritis terhadap realitas pemerintahan di Indonesia khususnya dalam penanganan krisis dan pengambilan kebijakan publik, Kritik yang disampaikan melalui humor justru memperkuat pesan film, karena mampu menyentil kesadaran penonton tanpa terkesan menggurui. Oleh sebab itu, film ini relevan untuk ditonton sebagai sindiran terhadap praktik pemerintahan yang kurang responsif terhadap kepentingan rakyat.
Editor : Femi Syafri Ananda
Sampul : Dikutip dari imdb.com

