The Stranger: Humor Buruk Alam Semesta
Penulis : Aditia Dwi Putra
Informasi buku
Judul : The Stranger (L’Étranger)
Penulis : Albert Camus
SKU : QN-132
Berat : 440 gram
Dimensi (P/L/T) :13 cm/ 21 cm/ 3 cm
Halaman :160
Tahun Terbit : 2022
ISBN : 9786024413002
“Aku Memberontak, Mungkin Kita Ada. Aku Menulis, Maka Kita Ada.”
Balkon apartemen saksi bisu trem terakhir berangkat, kereta yang mengangkut orang-orang asing, ke stasiun tua yang katanya tujuan terakhir pemberhentian. Kota yang tadinya ramai menjadi sepi saat gelap malam, lampu kota mati dan hidup kembali, seperti hidupku sendiri. Di kamar gelap apartemenku, mataku menatap lemari yang penuh lubang itu diam, ia kembali menatapku dengan rasa malas dan lelah.
Roda kereta kuda pengangkut jenazah ibu berputar pelan, peti mati ibu tidak terlalu panjang, peti itu terlihat gelap dengan ukiran tua di luarnya. Matahari bersinar terik saat pemakaman ibu, panasnya membuatku tak mengingat pemakaman ibu. Aku sadar bahwa ibu sudah meninggal, dan tak ada gunanya bersedih untuk orang sepertiku. Lebih baik, aku merebahkan badan dan tidur, daripada memaksa jiwaku untuk menangisi kepergian ibu sepanjang malam.
Rambut indah Marie terurai menutupi tawanya, ia tertawa sepanjang waktu saat kami berenang, dan kami berjemur sambil menatap langit cerah di pantai. Aku mengajak Marie menonton film di bioskop malam ini. Aku menciumnya dengan canggung saat film selesai. Mungkin aku menyukai Marie, dan dia ingin menikah denganku. Aku tak tahu aku mencintainya, dia bilang aku aneh, dan tak perlu diragukan, karena itulah dia mencintaiku.
Aku Ingin Menandaskan Kepadanya Bahwa Aku Sama Seperti Semua Orang, Benar-Benar Sama. ( Hlm. 86 )
Meursault
Akulah orang asing itu, membunuh orang Arab. Aku bisa berbalik dan pergi, atau aku bisa menembakkan pistol. Menatap langit, dan menatap matahari. Apapun yang aku pilih sama saja, sama sekali tidak ada apa-apa. Aku tidak menangis saat ibu meninggal, aku tidak masalah jika Marie berselingkuh, aku tidak menyesal telah membunuh. Ini tidak ada artinya.
“Penjara dingin tidak terlalu buruk,” pikirku yang sudah terbiasa tinggal dalam kamar gelap
sel. Aku menatap langit dibalik selku, seperti mencari makna dengan tatapan hampa, sambil berbisik “apakah semesta benar-benar punya makna.” Aku meraba semua sudut selku, seperti memaksa tabah dengan keputusasaan. Terdengar puitis, padahal semesta sama sekali tak peduli.
Mobil tahanan melaju melewati kota, membawaku ke pengadilan membosankan, pengadilan yang katanya menentukan nasibku. Nasibku akan diputuskan atas kejahatan ganjil ini, menembak orang Arab dengan lima peluru yang menembus tubuh orang itu. Aku tak pernah bisa benar-benar menyesali sesuatu yang telah terjadi. Aku tidak diizinkan berbicara, aku tak berhak memperlihatkan kebaikan hati dan punya niat baik.
Tidak ada yang perlu kukatakan, aku dihukum mati karena tak menangis di pemakaman ibu.Mereka menganggapku tak berperasaan karena aku tak tahu berapa usia ibuku sendiri, aku pergi menonton dengan Marie setelah pemakaman ibu. Mereka bilang, aku tak punya jiwa, sama sekali tak punya sifat manusiawi, dan tidak berpegang pada prinsip moral pada setiap manusia. Aku tak punya tempat di masyarakat, aku tak memahami aturan dasar, dan aku tak pantas mendapat simpati.
Permohonan banding ditolak, dan aku akan mati, kemungkinan terburuk. Aku tak bisa menerima kepastian konyol dari pengadilan. Pengacaraku bilang aku bersalah, tapi disertai permohonan maaf. Penuntut membuktikan aku bersalah, tapi tanpa permohonan maaf. Ucapan mereka terdengar seperti candaan, ”terimalah segalanya” katanya. Meskipun putusan ini bisa saja dibuat para pelayan yang bertugas mengganti sprei.
Hukuman mati
Ibu pernah bercerita kepadaku. Ayahku pergi menonton hukuman mati atas seorang pembunuh, mungkin pembunuh sepertiku, mungkin tidak. Aku membayangkan alat penggal guillotine, menaiki tangga ke atas panggung, dan kemungkinan leherku tak terpisah. Aku berkhayal berlebihan, sebaiknya aku tidur, dan berusaha tak terlalu memikirkannya. Pada akhirnya, harapanku untuk keluar dari penjara dan pergi menonton semua hukuman mati tidak akan terjadi.
Pastor penjara dan Tuhannya menghukumku
Aku seperti dibakar hidup-hidup pada tiang salib. Aku rasa itu berlebihan, tapi bisa kurasakan bahwa mereka menilaiku sebagai orang sesat, dan memanggilku dengan nama Tuan Antikristus. Aku meminta pastor meninggalkanku sendiri, tapi dia berkeras hati memintaku untuk memohon ampun pada Tuhan. Aku tahu pastor itu cemas dengan keadaanku, dia memandangku dengan kesedihan dan dia bilang permohonan bandingku akan diterima.
Kematian
Dia bagaikan pintu keluar yang selalu tertutup, tapi semua orang menunggunya.aku tidak lagi menyangkal eksekusi ini seperti rumor, hanyalah tatapan “tiada.” Seperti rokok murahan yang kubeli, rasa pahit ada setiap hisapannya, menyisakan asap yang membuat mataku perih, itulah keberadaanku. Tak bagus untuk dihirup, dianggap polusi, dan akan menghilang. Maka, aku akan menulis dengan malas untuk keberadaanku, menegaskan bahwa semesta benar-benar humor yang buruk.
Editor : Airlangga Kepri Nusantara

