Polemik Persiapan BPRM UIR dalam Pemilihan Raya Mahasiswa
Penulis : Bella Febria
Gelaran Pemilihan Raya (PEMIRA) Universitas Islam Riau (UIR) kembali menjadi ajang pesta demokrasi terbesar di lingkungan kampus, dimana dua Pasangan Calon (Paslon) Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa yakni Muhammad Ramadhanu Hasibuan dan Sukron selaku Paslon 01, Muhammad Azfar Azari dan Rajasi Dewa, Paslon Nomor Urut 02. Bersaing ketat untuk memperebut kepercayaan mahasiswa dalam memangku jabatan sebagai Presiden Mahasiswa (Presma) dan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma), ditengah meningkatnya kesadaran politik mahasiswa terhadap isu-isu kampus dan sosial, terselip polemik pada tubuh Badan Perwakilan Rakyat Mahasiswa (BPRM) yang menjadi penyelenggara utama PEMIRA.
PEMIRA yang akan dilaksanakan mengalami kemunduran dari timeline yang telah ditetapkan. Seperti pelaksanaan Debat Paslon yang awalnya direncanakan pada (30/10) diunggah melalui kanal Instagram @bprm.uir. Namun pada kenyataanya BPRM melaksanakan debat tersebut, pada Senin (03/11) lalu.
Hanya saja terjadi pengunduran jadwal PEMIRA yang seharusnya dilaksanakan pada Kamis (06/11), informasi pelaksanaan PEMIRA tersebut didapatkan melalui Surat Keputusan (SK) dengan Nomor Surat 1st/PJ-GUB/11/2025 yang telah disebar di Whastapp grup Fakultas Hukum .
Pada Rabu (5/11) BPRM melakukan diskusi untuk mengambil keputusan kapan dilaksanakan PEMIRA, berlokasi di Warung Jus dengan mengundang Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) serta Tim Sukses (Timses) dari Paslon 01 dan 02 untuk menetapkan jadwal dilaksanakannya PEMIRA, tetapi setelah dibukanya forum diskusi hingga pukul 00.00 WIB oleh BPRM belum didapatkanya kepastian terkait kapan PEMIRA itu dilaksanakan.
Menanggapi hal ini, Bintang Daafiq selaku Ketua DEMA memberikan tanggapan terhadap kesiapan BPRM.
“Terdapat beberapa kendala dalam persiapan yang dilakukan oleh BPRM walaupun telah menyiapkan dari jauh-jauh hari”. Ujarnya.
Lebih lanjut, Bintang menambahkan, keputusan terkait pelaksanaan PEMIRA bergantung pada keputusan BPRM sepenuhnya. Hanya saja, DEMA akan mengawasi dan memastikan proses berjalan secara demokratis.
Persiapan dari BPRM ini juga mendapat tanggapan dari Ahmad Muhaimin, Timses Paslon 01, terkait ketersiapan BPRM.
“Kesiapan BPRM dari apa yang diinformasikan sudah oke, tetapi BPRM mengeluhkan bahwa ada pimpinan fakultas yang kurang respon, sehinga jika ada instruksi dari pihak BPRM mereka tidak langsung melaksanakan perintah tersebut” tuturnya.
Lebih lanjut, Ahmad menambahkan kurangnya respon dari Pimpinan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas ini disebabkan minimnya gairah PEMIRA di UIR yang terdampak terhadap permilihan Presma yang telah berturut-turut terpilih secara aklamasi, sehingga menyebabkan butanya mahasiswa UIR terhadap demokrasi di lingkungan kampus.
Ketika diskusi berlangsung dan belum menemukan titik terang, pihak BPRM telah meninggalkan ruang diskusi dengan alasan gerbang UIR akan segera ditutup, alasan ini diutarakan karena ingin menyelesaikan persiapan PEMIRA UIR pada esok harinya.
Sikap dari BPRM ini membuat kekecewaan Fikri sebagai Timses Paslon 02. Dirinya menganggap BPRM tidak memiliki integritas dan tidak menghormatinya selaku tim sukses yang diundang langsung,
”Kami merasa BPRM lepas tanggung jawab”. Tutur Fikri
Ia menambahkan pihaknya menerima dengan segala konsekuensi yang terjadi jika PEMIRA tetap dilaksanakan pada jadwalnya. Hal ini juga diaminkan oleh Timses Paslon 01.
“Harapan pelaksanaan PEMIRA pada esok hari tetap terlaksana, dikarenakan mau bagaimanapun jika terjadi pengunduran maka akan ada konsekuensi”. Kata Ahmad
Lain halnya, Keputusan terkait pelaksanaan apakah PEMIRA akan tetap dilaksanakan pada hari kamis masih ditangguhkan oleh pihak BPRM pada malam hari itu, namun keputusan jadwal pelaksanaan PEMIRA baru diperoleh setelah diumumkan dari BPRM pada Kamis (06/11) pukul 05.00 WIB melalui stories Instagram mereka bahwa adanya pengunduran pelaksanaan PEMIRA yang dijadwal pada Jum’at (7/11) di Fakultas masing-masing.
Hingga tulisan ini diterbitkan, alasan terkait adanya kemunduran pelaksanaan PEMIRA belum diperoleh, sebab pihak BPRM belum memberikan jawaban kepada reporter AKLaMASI.
Foto : Koleksi Pribadi
Editor : Halimatul Yusriah, Annisa Rahma Aulia

