OPINI

Aksi BEM UIR di Kantor DPRD Riau: Tinjauan Waktu dan Substansi Tuntutan


Penulis: Adit Dwi Putra


Aksi demonstrasi yang menyoroti kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran dihadiri oleh massa mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) yang berpakaian lengkap jaket almamater biru kebanggaan.

Sebelum berangkat, para mahasiswa terlebih dahulu berkumpul di Bundaran UIR. Menurut jadwal yang diterbitkan, mereka seharusnya bergerak jika waktu menunjukkan pukul sembilan Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB). Pengurus BEM UIR telah mencantumkan segala keperluan logistik yang harus dibawa pada aksi nantinya, seperti air minum, handphone, masker, serta obat-obatan sebagai antisipasi jika aksi berlanjut hingga mencapai akhir tujuan.

Presiden Mahasiswa Universitas Islam Riau (Presma UIR), Muhammad Ramadhanu Hasibuan menyampaikan perihal keberangkatan mereka.

“kita bersama kawan-kawan mahasiswa uir berangkat dari uir di jam sebelas, kita sampai disini siang hari bertepatan dengan sholat dzuhur. dan juga aksi ini, sudah dikonsolidasikan dari kamis untuk membicarakan tuntutan aksi” ucapnya.

Menjelang azan zuhur berkumandang, massa demonstrasi mulai memadati gerbang depan halaman masuk kantor DPRD Provinsi Riau. Dengan menenteng spanduk protes dan beberapa pidato lantang, mereka berkumpul di depan barisan penjaga keamanan. Matahari yang bersinar terik tidak menjadi halangan demi mencapai tujuan, yaitu diterimanya tuntutan dan keresahan yang telah dikaji jauh hari.

Kami mahasiswa Universitas Islam Riau dengan ini menyatakan bahwasanya Indonesia dalam kondisi darurat bencana, dengan melemahnya rupiah, proyek pemerintah yang lenyap di tangan koruptor serta pendidikan yang belum layak. Maka kami menuntut:

  1. Hentikan pemborosan anggaran usaha yang tidak berdampak dan segera hadirkan kebijakan untuk memperkuat rupiah.
  2. Berhenti menjual tanah di perusahaan-perusahaan, segera hadirkan solusi konkret untuk menjawab persoalan ekonomi rakyat.
  3. Bersihkan Badan Gizi Nasional dari korupsi dan kepentingan politik.
  4. Jika tidak efektif, hentikan dan evaluasi total program MBG dan Koperasi Merah Putih.
  5. Hentikan dan alokasi koperasi desa, jangan jadikan Koperasi Merah Putih sebagai proyek mahal yang membebani rakyat.
  6. Buka akses dan cantumkan anggaran MBG dan dana pendidikan, serta mengatasi dan menjamin kesejahteraan guru, ketimpangan kualitas, dan standar pendidikan nasional.
  7. Tetapkan status darurat nasional untuk perbaikan infrastruktur pendidikan yang rusak.
  8. Hentikan angka putus sekolah melalui program intervensi nasional yang terukur.
  9. Audit dan buka secara transparan penggunaan 20% anggaran pendidikan nasional kepada publik.

Barisan massa pendemo dihadang oleh polisi berpakaian lengkap. Mereka saling berdesak-desakan saat pidato dari orator tidak henti-hentinya diucapkan, seolah bunyi dari narasi tadi menjadi napas perlawanan yang memberikan keberanian untuk tetap berdiri di hadapan kerasnya barikade keamanan. Mahasiswa tidak punya urusan dengan polisi yang menjaga, mereka hanya ingin tuntutan segera didengarkan dan diberi jalan keluar.

Merasa terlalu lama menunggu karena para anggota dewan tidak kunjung kelihatan, massa aksi mencoba menerobos masuk ke dalam kantor dewan. Tindakan tersebut dihentikan oleh barisan polisi dengan langkah pencegahan. Massa saling dorong-mendorong, mencoba maju selangkah demi selangkah menembus barikade sambil tetap menunggu kedatangan perwakilan rakyat. Beruntungnya, kondisi yang sempat memanas itu tidak sampai berujung pada kekerasan fisik.

Di tengah situasi aksi, akhirnya beberapa anggota DPRD Riau yang terdiri dari Abdullah, Sumardani, dan Edi Basri bersedia menemui massa untuk berdialog. Mereka memberikan keterangan akan menerima dan menyampaikan tuntutan tersebut kepada pemerintah pusat, meskipun Ketua DPRD Riau Kaderismanto berhalangan hadir. Di bawah atap teras pagar, mereka saling berdiskusi dan mempertanyakan di mana tanggung jawab pemerintah saat rakyat sedang menderita.

Pada akhirnya, perdebatan ditutup dengan pembacaan poin tuntutan oleh Presma UIR. Penandatanganan nota kesepahaman dan foto bersama menjadi bukti bahwa aksi berjalan damai meskipun sempat diwarnai ketegangan. Sebelum shalat ashar dilaksanakan, sebagian mahasiswa pulang kembali ke kampus. Evaluasi internal tetap dilakukan, dan jika jawaban dari petinggi dewan belum menemui kepastian, massa berkomitmen untuk kembali turun minggu depan.

Mengenai dinamika waktu pergerakan tersebut, Presma UIR, Muhammad Ramadhanu Hasibuan menyampaikan.

“tidak ada keterlambatan, namun selama perjalanan menuju lokasi, kita sedikit terlalulambat dalam perjalanan, begitu!” ujarnya.

Di sini, penulis ingin mempertanyakan perihal sikap yang ditunjukkan BEM UIR selama aksi. Jika melihat dari selebaran yang diterbitkan pada halaman media sosial BEM UIR, demonstrasi dijadwalkan pukul sembilan tetapi mereka baru tiba menjelang azan zuhur. Jika Presma UIR memberikan alasan keterlambatan karena perjalanan, maka tolong jelaskan kejadian apa yang membuat penulis harus menunggu di lokasi selama dua jam.

Apakah ada sesuatu sepanjang Jalan Kaharuddin Nasution menuju Jalan Jenderal Sudirman yang tidak bisa dilewatkan, sehingga penulis merasa sia-sia karena tidak dapat mendokumentasikannya? Mengapa gerobak mie ayam bisa datang lebih awal daripada mereka yang menyuarakan keresahan atas nama pedagang, buruh, dan juga guru?

Terkait alasan dilaksanakannya diskusi panjang di internal massa aksi terlebih dahulu, Presma UIR, Muhammad Ramadhanu Hasibuan mengeluhkan hal tersebut.

“kenapa kita harus ada diskusi dulu, bagaimana para dewan mengerti permasalahan yang terjadi sekarang, kita mengkaji isu-isu tadi agar para dewan dapat mengetahui permasalahan yang kita bawa. bagaimana cara para dewan mengetahui keresahan dan permasalahan yang ada, ya, tetapi jawabannya seperti biasa saja–normatif” jelasnya.

Apakah diskusi itu memang diperlukan? Kita tahu niat baik dari Presma UIR adalah agar tuntutan bisa dibawa ke hadapan presiden, tetapi realitasnya hanya ada tiga orang politisi yang menjawab secara lumrah dan normatif. Pantaskah kita tersenyum dan berfoto bersama ketika belum ada satu pun kebijakan konkret yang bisa dibanggakan dari para anggota dewan? Mengapa kita merasa telah menang atas kondisi yang belum pasti?

Di mana semua kemarahan saat kita berani menantang barisan penjagaan untuk menyeret keluar anggota dewan yang hidup penuh kemewahan? Padahal saat berpidato lantang, kita tidak takut menghadapi aparat, tetapi tak lama kemudian kita justru berjabat tangan dan saling tertawa seolah keributan telah mereda. Sebegitu cepatkah kepercayaan kita berubah setelah keluhan dibicarakan?

Penulis tidak menganggap perjuangan BEM UIR ini berakhir sia-sia, sebab ini baru permulaan. Namun, jika mendambakan perubahan sejati, mengapa kita harus bernegosiasi dengan waktu yang relatif singkat? Jika kita mengibaratkannya dengan aturan perkuliahan jam sembilan lalu baru datang pukul sebelas siang, bagaimana reaksi dosen yang menunggu? Apakah kelas akan tetap berlangsung?

Mengenai rencana pergerakan ke depan, Presma UIR menyampaikan ajakan kepada seluruh mahasiswa.

“tindak lanjut dari anggota DPR dengan janjinya akan membawa tuntutan tadi ke pusat pada minggu depan, dan kami mengajak kawan-kawan agar kembali turun aksi minggu depan, jika tidak ada jawaban dari mereka. karena itu agar tuntutan kita sampai dahulu” tambahnya.

Semoga saja tidak ada lagi keterlambatan dalam aksi selanjutnya. Anggaplah ketepatan waktu adalah hal krusial, dan penulis mengakui sendiri pernah diusir dosen akibat terlambat setengah jam karena waktu sangat berharga. Namun, ada kekecewaan kolektif yang mungkin tidak dirasakan oleh para perwira maupun pedagang yang berjualan di trotoar jalan.

Sesungguhnya penulis berdiri bersama mereka yang memiliki banyak keluhan dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat ini. Penulis mendambakan negeri ini menjadi tanah yang memanusiakan setiap insan, di mana penderitaan mereka yang lapar dan susah segera hilang lewat rasa saling pengertian.

Akan tetapi, tersisa sedikit keraguan melihat barisan yang hari ini berjuang tetapi terlambat datang. Jika kelak mereka berhasil duduk di kursi kekuasaan, apakah mimpi murahan penulis akhirnya terkabulkan, atau momentum ini hanya akan menjadi ritual pergantian tempat duduk kekuasaan dalam setiap kenegaraan?


Editor: Airlangga Kepri Nusantara

Dokumentasi: Reporter Adit Dwi Putra