RESENSI

Tak Putus Dirundung Malang: Kenang STA pada Ibunya


Penulis: Adit Dwi Putra


Sutan Takdir Alisjahbana, atau sering disingkat STA, adalah salah satu tokoh besar sastra, bahasa, dan pemikiran kebudayaan Indonesia pada abad ke-20. Ia bukan cuma novelis, tetapi juga pemikir kebudayaan, ahli bahasa, pendidik, dan salah satu penggerak utama Pujangga Baru.

STA lahir di Natal, Sumatera Utara, pada 11 Februari 1908. ia lahir dari keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan bangsawan dan tradisi keagamaan. ibunya bernama Puti Samiah, disebut sebagai keturunan Rajo Putih, penguasa Kesultanan Indrapura yang punya hubungan dengan wilayah Natal. meski ia lahir di Natal, STA memiliki garis keturunan Minangkabau dari pihak ibunya.

Ayahnya Bernama Raden Alisjahbana, seorang guru sekaligus tokoh agama yang bergelar Sutan Arbi. Ia memiliki berdarah Jawa, hubungan dengan keluarga bangsawan, serta pengetahuan yang luas tentang agama dan hukum, Oleh karna itu, tidak mengherankan jika Raden Alisjahbana, yang merupakan cucu Sutan Mohammad Zahab, berprofesi menjadi guru sekolah dan imam, atau pegawai agama islam.

Sejak kecil hingga dewasa, STA lebih dekat dengan ibunya. Sementara itu, ayahnya digambarkan sebagai sosok yang cukup keras terhadap anak-anak. Sebagian besar masa kanak-kanak STA dihabiskan di Bengkulu, Ia hanya sampat tinggal di tanah kelahirannya hingga berusia empat tahun. Banyak yang menyebut STA kecil bukan seorang kutu buku, melainkan seorang yang lebih senang bermain-main di luar.

Pada tahun 1925, setahun sebelum STA  menamatkan pendidikan dari kweekschool (sekolah guru) di Muara Enim, ia dikirim ke hogere kweekschool di Bandung. tiga tahun setelahnya, tepat tahun 1928, ibunda yang sangat dicintainya harus berpulang ke rahmatullah. Kepergian sang ibu sangat mengguncang hingga ia menangis sepanjang malam dan kemudian jatuh sakit.

Tak Putus Dirundung Malang adalah roman karya STA yang terbit pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1929. pada awal penerbitan, STA masih menulis menggunakan Bahasa Melayu Tinggi, dalam penulisannya. Seiring waktu, novel ini dicetak ulang berkali-kali sehingga mengalami perubahan Bahasa dan ejaan. Pada 2009, karya klasik ini dicetak ketujuh belas kalinya oleh Penerbit Dian Rakyat di Jakarta.

Kisah ini diawali oleh sebuah keluarga kecil yang tinggal di pinggir Sungai Ketahun, salah satu nama sungai yang letaknya di Bengkulu. Syahbudin sudah enam tahun hidup sebagai duda dua anak. Ia tinggal dalam sebuah pondok kecil setelah rumahnya dulu hangus dimusnahkan oleh api. Sepeninggalan istrinya, Mansur adalah anak laki-laki tertua yang beradik perempuan, yaitu Laminah.

Syahbudin yang tidak pernah menikah lagi hidup dengan menjual durian hasil ladangnya dan terkadang pergi menjala ikan di laut. Sebagai tulang punggung keluarga, tidak banyak uang yang diterima dari hasil kerjanya, hanya cukup untuk makan sehari bagi keluarganya yang malang. Terkadang, ia meminjam beras kepada adiknya yang perempuan, Jepisah, yang senasib dan mau berbagi dengannya.

Menjelang pertengahan cerita ini, Syahbudin mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang keras melawan sakit yang ia derita. Tinggallah Mansur dan Laminah, dua beradik yatim piatu yang menumpang tinggal pada uncu-nya (peribuan). Jepisah merawat mereka sebagai janji terakhir Syahbudin sebelum meninggal. “Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir,” itulah kata-kata terakhir Syahbudin kepada Mansur dan Laminah.

Tapi rupanya, kasih sayang dari madang (suami Jepisah) yang mengasuh mereka itu tidaklah kekal. Semakin lama, tanggungan Mansur dan Laminah menjadi beban bagi keluarga madang. Tidak sekali dua kali madang melekatkan tangan dan rotan kepada dua anak yatim piatu itu jika mereka bermalas-malasan, sedangkan Jepisah tidak dapat membela karena takut akan kena siksa suaminya.

Maka, dikuat-kuatkan hati dan badan mereka yang mau tidak mau harus pergi mengadu untung ke Negeri Bengkulu. Datuk Halim dan Andung Seripah rela menampung mereka jika harus terusir dari rumah madang. Biarpun makan apa adanya, tidak masalah daripada diazab oleh madang. Tapi, keinginan mereka lain daripada ingin hidup mandiri; sering mereka berharap belas kasihan pada orang lain.

Setiba di Bengkulu, mereka harus punya pekerjaan tetap untuk terus menyambung keberlangsungan hidup di negeri orang. Walaupun tokeh atau orang Cina yang punya kedai roti itu menerima mereka dengan gaji rendah, masalah tidur dan makan boleh ditanggung tokeh yang baik itu. Meskipun kehidupan di rantau serba ada, bukan berarti aman dan sentosa selama-lamanya. Laminah sendiri karyawati yang bekerja pada toko roti. Ia sering gelisah jika ditinggal Mansur pergi berjualan keliling hampir setiap hari.

Mansur akhirnya bertanya kepada Laminah yang beberapa hari ini tidak bersemangat bekerja. Laminah mengaku tidak nyaman dengan keberadaan bujang-bujang di toko, terutama Sarmin. Ketika itu, Laminah hendak mencuci di bilik sumur belakang. Lalu, masuklah Sarmin yang ingin melampiaskan niat buruknya kepada Laminah, tetapi Laminah berhasil kabur setelah melawan balik.

Setelah mengetahui bencana yang menimpa adiknya itu, Mansur berpikir dalam-dalam agar peristiwa itu tidak terjadi lagi. Maka, Mansur, sebagai kakak yang ingin melindungi adiknya, meminta izin keluar dari kedai roti kepada tokeh. Meskipun sangat disayangkan karena tokeh berencana menaikkan upah mereka setelah setahun bekerja, ia tidak bisa memaksa mereka karena demi keselamatan Laminah.

Waktu cepat berlalu dan mereka berdua mulai bernapas lega dalam lindungan yang aman. Akan tetapi, tiba-tiba Mansur ditangkap oleh opas (polisi) karena dituduh mencuri uang di tempatnya bekerja. Laminah yang putus asa kini hidupnya terkatung-katung sendirian tanpa adanya kepastian.

Pikiran Laminah, haruskah ia pulang meninggalkan abangnya atau kembali meminta belas kasihan kepada tokeh tuanya yang lama? Ke mana lagi hendak meminta karena uangnya yang tersisa hampir habis? Tapi celakanya, ia harus berjumpa dengan Darwis, si lelaki yang manis mulutnya.

“Malang Tak Dapat Ditolak, Mujur Tak Dapat Diraih,” kata pepatah dahulu yang menggambarkan batin yang dirasakan Laminah ketika ia ingin menenggelamkan dirinya. Di akhir cerita, sebelum Mansur dibebaskan dari kurungan penjara, bercerailah Laminah dengan badannya.

Dengan putusnya untai tali bergantung antara Mansur dan Laminah, pada penghabisan cerita diketahui bahwa Mansur hidup sebatang kara. Tiada ibu-bapa dan adik, jauh dari kampung dan teman-teman, hingga ajalnya datang di Laut Bengkulu.

STA mulai menulis bagian awal novel ini ketika berusia sekitar 17-18 tahun, saat ia belajar di sekolah guru lanjutan di Bandung. STA mengaku ketika itu belum banyak memahami teori kesusastraan. Ia mengatakan bahwa yang ia tahu saat itu hanyalah ingin “menciptakan sesuatu yang sangat sedih”. Perasaan sedih yang luas menghinggapi anak muda seusianya itulah yang menjadi dorongan awal ia menulis Tak Putus Dirundung Malang.

Ketika tahun 1928, sebelum karyanya ini selesai saat ia genap berusia 20 tahun, ibundanya harus berpulang ke pangkuan Tuhan. STA meratap sedih sepanjang malam. Seminggu kemudian, ia harus dirawat karena terserang penyakit jantung. “Uang upah pertama saya kemudian dipakai untuk menguburkan ibu. Saya sedih betul,” kenangnya pada suatu kali.

STA kemudian melanjutkan penulisan naskah ini sampai selesai di Bandung pada tahun 1928. Setahun kemudian, Balai Pustaka menerbitkannya. Novel klasik ini ia tuntaskan dalam cuti tiga bulan dari pekerjaannya sebagai guru sekolah rendah di Palembang. Cuti itu berkaitan dengan sakit jantung yang dialaminya, yang menurut STA mungkin mempunyai hubungan dengan wafatnya ibunya.

Tragis, lautan Bengkulu yang luas dan panjangnya Sungai Ketahun digambarkan dengan kuat dalam novel Tak Putus Dirundung Malang. Latar yang indah dipadukan dengan kontras kehidupan tokohnya yang melarat. Lanskap lautan itu juga menjadi pemutus untaian kesusahan yang dirasakan oleh Mansur dan Laminah, seperti tubuh yang karam dihantam gelombang.

Menariknya, STA tidak memberi hukuman langsung kepada musuh dalam cerita ini. Artinya, kebaikan tokoh utama tidak selalu dapat menolong. Akan tetapi, jangan pula kita sangka bahwa usaha mereka bertahan itu sia-sia. Tidak semudah itu.

Nyatanya, manusia sering berbuat salah. Kesalahan pun tidak dapat dibenarkan, apa pun alasannya. Sebab, ada untung dan ada rugi, ada yang baik dan jahat, serta ada mereka yang malang dan yang bertuah. Tapi, adakah di dunia ini manusia kaya yang tidak berdosa dan hidupnya jauh dari kata “derita”? Tentu tidak.

Setidaknya, roman klasik ini menjadi pembelajaran tentang pentingnya bertanggung jawab dalam segala tutur dan gelagat. Novel ini mengajarkan sikap tenggang rasa, empati, dan menahan ego pribadi. Kita tidak boleh hanya mementingkan kenyamanan atau kebahagiaan diri sendiri tanpa memedulikan perasaan, hak, atau kenyamanan orang lain.


Editor: Airlangga Kepri Nusantara

Gambar: Laman Cahaya Pustaka