AKLaMASI UIR Sukses Gelar DJTD XXVII Berbasis Kolaborasi AI
Penulis: Femi Syafri Ananda
Media Mahasiswa AKLaMASI dari Universitas Islam Riau (UIR) kembali menggelar Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar (DJTD) XXVII pada 19–21 Juni 2026 di Rumah Kebangsaan Cipayung Plus, Pekanbaru.
Kegiatan yang mengusung tema Jurnalisme Kolaborasi dengan Artificial Intelligence ini diikuti oleh mahasiswa dari Institut Teknologi Pertanian Pelalawan Indonesia (ITP2I) serta kru AKLaMASI yang memiliki minat terhadap dunia jurnalistik, media digital, dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI).
DJTD XXVII diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta mengenai dasar-dasar jurnalistik sekaligus mengenalkan pemanfaatan teknologi AI dalam proses produksi karya jurnalistik. Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan media yang terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Ketua Pelaksana DJTD Femi Syafri Ananda dalam wawancaranya menyampaikan perihal acara yang digelar oleh AKLaMASI.
“DJTD XXVII kali ini mengusung tema Jurnalisme Kolaborasi dengan Artificial Intelligence (AI) mengingat perkembangan teknologi yang tidak bisa kita elakkan. Khususnya dalam konteks jurnalisme, jika tidak digunakan secara bijak justru mampu menjadi bumerang bagi yang menggunakannya. Kolaborasi AI maksudnya tidak bisa kita jadikan alat untuk membuat tulisan, tapi AI bisa kita jadikan alat bantu untuk membuka cakrawala berpikir kita ketika ingin mengeluarkan ide saat membuat tulisan,” jelasnya.
Diklat ini mengundang beberapa pemateri yang kompeten di bidangnya termasuk alumni AKLaMASI yang telah berpengalaman dalam media sosial dan jurnalisme. Terdapat empat materi yang dibahas dalam Diklat tersebut, mulai dari Riset TOR dan Wawancara, Straight News, Faeture, dan Content Creator.
Ronal Castro yang merupakan salah satu peserta mengungkapkan perbedaan setelah mengikuti pelatihan Diklat AKLaMASI yang diselengarakan dalam penulisan berita.
“Pengalaman saya dalam DJTD XXVII kurang lebih dapat memahami berbagai cara dalam jurnalistik itu sendiri, dan ya, karena ini masih pelatihan tingkat dasarnya, jadi ada beberapa praktik yang kami lakukan seperti bagaimana cara mewawancarai yang benar, straight news, feature, content creator, dan juga bagaimana cara kita melihat sudut pandang lain membuat hal itu menjadi suatu yang menarik dalam membuat berita,” ujarnya.
Ronal juga menambahkan bahwa pelatihan ini memberikan manfaat yang besar bagi penulisannya ke depan, mengingat berencana untuk membangun sebuah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).
“Tentu sangat membantu, karena kami dari background yang berfokus pada perkebunan itu tidak ada pengalaman sama sekali dengan jurnalistik, mata kuliahnya pun tidak ada. Jadi ya, kurang lebih dari sini kami juga paham, dalam membuat berita itu perlu judul yang mampu menarik dimata, berita juga perlu emosi dan harus hidup,” jelasnya.
Editor: Airlangga Kepri Nusantara
Foto: Airlangga Kepri Nusantara

