Mengenal Budaya, Mahasiswa FIKOM Gelar Panggung Sebati


Penulis: Mimi Isgiandini


Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Islam Riau (UIR) menggelar Pangsi (Panggung Sebati) yang menjadi tugas akhir semester pada mata kuliah Event Organizer. Acara ini diselenggarakan di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UIR pada Sabtu, (8/6).

Dalam acara ini menampilkan karya-karya istimewa, seperti puisi kolaborasi, teater serta pembawaan lagu lama Gurindam Jiwa. Selain itu juga disajikan film karya original mahasiswa FIKOM UIR yang berjudul Hilang Tua Hilang Budaya. Film ini juga sempat meraih Juara II Nasional Film Pendek oleh KPI pusat di Universitas Sumatera Utara (USU).

Sesuai dengan namanya, Panggung Sebati berasal dari bahasa Melayu yang artinya panggung persatuan. Sehingga dalam rangkaian acara turut ditampilkan Dialog Kebudayaan yang berkolaborasi dengan mahasiswa PMM (Pertukaran Mahasiswa Merdeka) inbound UIR. Dihadirkan anak muda dari Jawa, Bali, dan Sulawesi.

Isna Sabrina, mahasiswa PMM dari Universitas Negeri Semarang menceritakan keterkejutannya saat berada di Pekanbaru, khususnya soal makanan.

“Makanan di Jawa itu cenderung manis asin dan ngga pedes,” ujarnya.

Isna juga mengaku terkejut ketika melihat mahasiswa di UIR yang tak menunduk ketika masuk ke kelas yang sudah dihadiri oleh dosen. Menurut Isna menunduk kepada dosen merupakan etika dasar seorang mahasiswa.

“Saya kaget kok masuk aja, nggak nunduk gitu,” timpalnya.

Selain Isna, yang turut menjadi pembicara dalam dialog ini yaitu Shanoon Valerie yaitu mahasiswa PMM asal Universitas Pendidikan Ganesha, Bali. Ia bercerita mengenai pakaian adat Bali yang terdiri dari baju atasan yang bernama Kebaya, rok bawah yang bernama Kamen, dan selendang. Shanoon menuturkan ketika sembahyang, selendang yang diikatkan di perut adalah hal penting yang harus dikenakan.

“Ini (selendang: red) seperti penanda kalo kita mau sembahyang, karena patung-patung disana diikatkan selendang juga,” tuturnya.

Lalu beralih ke Alvito Arfiansyah yang berasal dari Sulawesi namun berkuliah di Universitas Amikom Yogyakarta. Alvito memperkenalkan tradisi Uang Panai yang menjadi salah satu ciri khas dari suku Bugis, Sulawesi.

Uang Panai atau uang hantaran dalam pernikahan ini sudah ada sejak zaman dulu dan memang sudah tidak bisa diubah oleh masyarakat suku Bugis.

“Bahkan ada pernikahan yang dibatalkan sepihak karna uang panai yang tidak sesuai,” ujar Alvito.

Acara Panggung Sebati ini diakhiri dengan penggelaran teater dari Suku Seni dengan judul Siti. Pertujukan ini dibawakan oleh dua orang tokoh yang bercerita mengenai sungai yang telah tercemar bernama Siti.


Editor: Fani Ramadhani


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *