Mengajar Suku Pedalaman Melalui Sokola Rimba


Penulis: Ananda Latif


Sokola Rimba adalah sebuah film tahun 2013 yang diangkat dari kisah nyata seorang antropologi sekaligus aktivis pendidikan, yaitu Saur Marlina Manurung atau yang lebih dikenal dengan Butet Manurung.

Ia yang mendirikan Sokola Rimba dan berdedikasi untuk mengajar anak-anak suku pedalaman atau Orang Rimba di Makekal, hutan Bukit Dua belas, Provinsi Jambi.

Film berdurasi 90 menit ini disutradarai oleh Riri Riza. Ia juga yang telah mengangkat kisah anak-anak Belitong melalui film Laskar Pelangi di tahun 2008.

Sama halnya dengan film Laskar Pelangi, Riri turut melibatkan orang lokal dalam filmnya ini. Seperti Nyungsang Bungo yang juga menjadi pemeran utamanya. Serta, dibantu oleh 80 anak rimba yang berasal dari pedalaman hutan Bukit Dua Belas.

Film ini bercerita tentang perjuangan Butet Manurung yang diperankan oleh Prisia Nasution untuk mengenalkan huruf dan angka kepada anak-anak yang hidup di tengah hutan. Mereka hidup tanpa fasilitas dan infrastruktur yang memadai.

Film dimulai ketika Butet akan pergi mengajar anak-anak Orang Rimba di Hulu. Namun dalam perjalanan, Butet terkena malaria. Kemudian seorang anak tak dikenal bernama Nyugsang Bungo datang menyelamatkannya. Anak itu berasal dari Hilir sungai Makekal, yang berjarak tujuh jam perjalanan dari tempat Butet mengajar.

Ternyata selama mengajar di Hulu, Bungo diam-diam memperhatikan Butet. Karena penasaran dengan anak itu, Butet pergi ke Hilir Sungai Makekal. Disana, ia akhirnya mengetahui maksud Bungo. Anak yang telah lama memperhatikannya mengajar itu ternyata ingin bisa membaca, agar dapat memahami isi dari sebuah gulungan kertas perjanjian yang telah dicap jempol oleh Kepala Adat disana.

Di tempat tinggal Bungo tidak ada yang bisa membaca. Sehingga mereka hanya bisa menyetujui dengan memberikan cap jempol di atas surat sebagai tanda persetujuan, tanpa benar-benar mengetahui isinya.

Namun, kedatangan Butet untuk mengajar tidak disambut baik oleh suku tersebut. Mereka mempercayai bahwa sebuah pensil dapat membawa penyakit bagi mereka. Akhirnya, Butet pergi meninggalkan Hilir Sungai Makekal.

Namun, ia tidak menyerah. Butet kembali ke suku dalam tetapi di lokasi yang berbeda, yaitu di tepi hutan. Disana anak-anak Orang Rimba belajar, termasuk Bungo.

Film ini menggambarkan perjuangan seorang guru untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak di daerah terpencil yang sulit dijangkau. Selain itu, juga menyoroti sikap acuh tak acuh dan rakus dari pihak-pihak yang melakukan eksploitasi lingkungan tanpa memperhatikan dampaknya bagi kesejahteraan manusia dan alam.

Proses syuting film Sokola Rimba memakan waktu hingga 14 hari, dan 95 persen dilakukan di Provinsi Jambi tepatnya di Kabupaten Maerangin dan Tebo. Sehingga sinematografi serta penggambaran kehidupan Orang Rimba tersaji dengan apik dan benar-benar bisa membawa penonton seperti berada langsung di antara orang-orang suku pedalaman.

Film yang diproduksi oleh Mira Lesmana ini mendapatkan banyak penghargaan diantaranya Focus on Asia-Fukuoka International Film Festival kategori Audience Award 2015, Festival Film Hainan Jalur Sutra Maritim Abad 21 kategori The Best Soundtrack Music 2015, dan Penghargaan Piala Citra 2014.


Editor: Fani Ramadhani


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *